TRUE LOVE AJISAKA
Chapter 1
Sepulang sekolah, ku hempaskan
tubuhku di kasurku yang bercorak lambang klub sepakbola FC Barcelona. Yaa…itu
klub sepakbola kesukaanku. Berawal dari keseringan diajak nonton bareng sama
kakakku, lama-lama akupun menyukai juga klub sepak tersebut.
“Aisshh…,”keluhku.
Tiba-tiba saja pikiranku
terpikir pada sosok yang selalu kuharapkan untuk menjadi pacarku suatu hari
nanti. Setiap hari di sekolah dadaku selalu sesak melihatnya bersama cewek. Dia
sangat playboy tapi begitu banyak cewek yang mengejarnya. Siapa yang nggak
naksir coba sama dia, udah ganteng, pintar, tajir tapi sayang dia orangnya juga
sombong. Bahkan lebih parah lagi, dia cuek banget dengan setiap usahaku untuk
membuatnya jatuh hati padaku.
Sebuah pemikiran
yang cukup brilian menurutku. Aku ingin membuktikan kepadanya kalau aku juga
bisa mendapatkan cowok yang lebih dari dia agar dapat ku balas semua
kecuekannya padaku. Tak lama setelah itu aku menghubungi sahabatku. Aku sering
memanggilnya Shikamaru-kun. Wajahnya agak mirip dengan tokoh anime tersebut.
Bahkan gaya menata rambutnya juga sama. Tetapi jika rambutnya digerai dia lebih
mirip Isurugui Jun dalam anime True
Tears. Nama aslinya sih Riandra Ajisaka Permana. Dia begitu manis ketika
tersenyum . Kami menjalin hubungan pertama kali ketika aku disuruh Mamaku
memberikan bingkisan untuk para tetangga. Waktu itu keluargaku adalah pendatang
baru di perumahan yang bernama “Flower
House” itu. Nama itu disebabkan karena mayoritas di perumahan tersebut
adalah penjual bunga. Kesan pertamaku sesampai di perumahan ini saja karena
bunga-bunga itu.
Oh iya,
sesampainya di depan pintu rumah Rian, aku mengetuk pintu rumahnya sambil
menunggu seseorang datang membuka pintu. Aku mengamati sekeliling rumahnya yang
tampak asri, permai dan begitu indah. Di teras terdapat 1 set
2 kursi 1 meja dan diatas meja terdapat vas bunga mawar putih yang
sangat indah dan menawan. Beberapa pot-pot berisi bunga anggrek yang
menggantung di pinggiran beranda rumah. Dan taman bunga di sebelah kiri rumah
yang yang juga membuat rumah tampak begitu disayangkan jika kita tak
memandangnya ketika melewatinya. Perhatianku tersentak, ketika seseorang
membukakan pintu. Mata kita saling bertemu, saling memandang satu sama lain.
Aku nyengir.
“Ehh, selamat
siang, saya disuruh Mama saya mengantarkan bingkisan ini. Kami baru saja pindah
dari Pekalongan,”kataku berusaha bersikap ramah kepadanya.
Ia tersenyum padaku yang membuatku terpana
memandang wajahnya.
“Selamat siang
juga, sampaikan terima kasihku pada Mamamu yaa. Duduklah dulu, aku akan
meletakkan bingkisan ini di dalam,” katanya sambil masuk kembali ke dalam.
Akupun hanya memberikan isyarat mengangguk untuk menyetujui tawarannya.
Tak berapa lama,
dia keluar lagi membawa 2 gelas berisi jus jeruk dan setoples kue coklat. Aku
hanya memperhatikannya.
“Mampirlah
sebentar disini dan nikmatilah. Ngomong-ngomong namamu siapa?,” tanyanya
sembari duduk dan membuka tutup toplesnya.
Dengan kagetnya
karena terlalu memperhatikan sekeliling aku menjawab sambil menoleh kepadanya.
“Haa? Namaku?
Namaku Ajeng Putrihana Anjani. Panggil saja Ajeng,” sambil mengulurkan tanganku
dan tersenyum kepadanya.
^3Bersambung3^
Tidak ada komentar:
Posting Komentar